Minggu, 21 April 2013

Konseling KB



MAKALAH
KONSELING KB

Oleh

1. Faizatul Amri sebagai Bidan
2. Latipa Aini sebagai penyuluh KB  
3. Yosi Kasriani sebagai ibu yang berumur 19 tahun
4. Sigit Satria R sebagai suami nyonya Yosi
5. Desi Susiana sebagai ibu berumur 24 tahun
6. Wysilia Sari Sebagai ibu berumur 33 tahun
7. Rizka Tuhusna sebagai Mama Germo 
8. Elfi Hayani sebagai PSK

Dosen Pembimbing
Helda Hasan, SPd, S.Kep

Description: PERAWAT BARU .jpg




POLITEKNIK KESEHATAN RIAU
JURUSAN KEPERAWATAN
2013
Disuatu desa diadakan penyuluhan KB yang bertempat di balai desa “Bukit Kauman” di kegiatan tersebut dihadiri oleh bapak bapak dan ibu-ibu setempat diantaranya
1. Faizatul Amri sebagai Bidan
2. Latipa Aini sebagai penyuluh KB
3. Yosi Kasriani sebagai ibu yang berumur 19 tahun
4. Sigit Satria Refanda sebagai suami nyonya Yosi
5. Wysilia Sari sebagai ibu berumur 24 tahun
6. Riska Tuhusna Sebagai ibu berumur 33 tahun
7. Desi Susiana sebagai Mama Germo
8. Elfi Hayani sebagai PSK

Action 1
Faiza    : Assalamualaikum wr wb.
Masy   : waalaikum salam wr wb.
Faiza    : bapak ibu bagaimana kabarnya hari ini? Terima kasih sudah meluangkan waktu  untuk menghadiri acara penyuluhan KB di balai desa Bukit Kauman ini. Disini saya ditemani oleh bu Latipa  salah satu dari tim penyuluh KB kecamatan Lubuk Jambi. Saya persilahkan ibu Latipa untuk memberikan penyuluhan tentang KB.
Action 2
Latipa : Assalamualaikum wr wb.
Masy. : walaikum salam wr wb.
Latipa : Selamat Pagi bapak ibu. Terima kasih kepada ibu Rina yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk memberikan penyuluhan KB. Langsung saja saya akan menjelaskan satu persatu alat kontrasepsi. Yang pertama Kondom ya Bu. Ibu ibu pasti sudah tahu apa itu kondom, ada yang sudah pernah menggunakan kondom?
Riska    : oh, tentunya sudah dong bu...! (semangat)
Elfi      : saya mah tiap malem bu.
Latipa  : oh, begitu. Ya sudah saya akan menjelaskannya dengan singkat. Kondom itu sarung karet tipis penutup penis yang menampung cairan sperma pada saat ejakulasi. Memang untuk mendapatkannya sangat mudah bisa dibeli di warung atau di supermarket, tetapi ibu harus mengingat beberapa hal antara lain yang pertama, ibu harus menggunakan kondom baru setiap bersenggama.
Yosi     : ooh, berarti kalo udah dipakai gak bisa di cuci lagi bu?
Faiza    : Gak bu Yosi, kondom itu sekali pakai jadi ibu harus mempunyai persediaan kondom yang cukup dan hati hati jika kondom robek.
Seperti ini buk contoh kondomnya (sambil menunjukkan kondom)
Latipa  : iya bu, dan tolong jauhkan dari jangkauan anak anak dan buang kondom di tempat sampah yang tertutup.

Action 3
Latipa  : yang kedua KB suntik ya bu. KB suntik adalah obat KB yang disuntikkan 1 bulan sekali atau 3 bulan sekali. Untuk yang 1 bulan sekali berisi estrogen dan progesteron.
Faiza    : seperti ini bu (sambil menunjukkan contoh) untuk KB suntik 1 bulan namanya gestin.
Latipa  : yang 3 bulan sekali berisi progesteron saja.
Faiza    : kalo yang 3 bulan ini bu contohnya obatnya namanya hipoprogestin.
Latipa  : untuk wanita yang menyusui sebaiknya tidak menggunakan yang 1 bulan karena mempengaruhi produksi ASI. Keuntungannya kalau pake KB suntik itu tingkat keberhasilannya 99 % dan tidak membatasi umur.

Action 4
Faiza    : kemudian yang ketiga KB pil ya bu, ini obat kontrasepsi yang diminum setiap hari selama 21 atau 28 hari. Pil KB ada 2 macam (sambil menunjukkan pil KB)ini Pil KB yang hanya mengandung hormon golongan progesteron. (menunjukkan pil KB kedua). Kalau yang ini Pil kombinasi yang mengandung hormon golongan estrogen dan progesteron. Yang perlu diingat apabila menggunakan pil KB diawali hari 1 sama 5 masa haid, pil KB kombinasi dilarang diberikan pada ibu usia diatas 35 tahun dan perokok berat.

Action 5

Faiza    : yang keempat susuk KB atau implan yaitu alat kontrasepsi yang berbentuk batang terbuat dari silastik yang berisi hormon golongan progesteron yang dimasukkan dibawah kulit lengan kiri atas bagian dalamterdapat 2 jenis susuk KB yaitu terdiri dari satu batang dan dua batang (sambil memperlihatkan contoh KB susuk). Masing masing dapat mencegah kehamilan selama 3 tahun. Tidak diperbolehkan menggunakan susuk KB jika Hamil atau diduga hamil, penderita jantung, stroke, liver, darah tinggi dan kencing manis, perdarahan vaginal tanpa sebab.


Action 6
Latipa  : Nah kalo yang ini namanya IUD/ AKDR yaitu alat kontrasepsi yang dimasukkan kedalam rongga rahim (sambil memperagakan), terbuat dari plastik fleksibel, beberapa jenis IUD dililit tembaga atau tembaga yang bercampur perak bahkan ada yang disisipi hormon golongan progesteron, IUD bertembaga dapat digunakan selama 10 tahun. Tidak boleh dipergunakan padaibu hamil atau diduga hamil, gangguan perdarahan dan peradangan alat kelamin,kecurigaan kanker kelamin dan tumor jinak serta radang pinggul.
Kemudian saya akan menjelaskan vasektomi, vasektomi adalah pengikatan dan pemotongan saluran benih agar sperma tidak keluar dari buah zakar, cara ini dipakai untuk kontrasepsi mantap pria. Yang harus diingat untuk laki laki usia subur sudah punya anak cukup (dua anak), dan istri beresiko tinggi boleh bersenggama setelah 2 atau 3 hari pasca operasi dengan menggunakan kondom, penggunaan kondom dilanjutkan sampai 20 kali ejakulasi atau 3 bulan pasca operasi.

Action 7
Faiza    : dan kemudian Tubektomi, tubektomi yaitu pengikatan dan pemotongan saluran telur agar sel telur tidak dapat dibuahi oleh sperma. Tidak boleh melakukan tubektomi apabila menderita tekanan darah tinggi, stroke, kencing manis, atau diabetes, penyakit jantung dan paru paru. Sedikit tambahan ya bu, tubektomi dilakukan untuk wanita usia subur berumur diatas 30 tahun, sudah punya anak cukup atau 2 anak, anak terkecil harus berusia minimal 5 tahun.
Latipa  : demikian bu sedikit informasi tentang KB dari kami. Silahkan ibu atau bapak untuk berkonsultasi mengenai pilihan KB yang tepat bagi bapak atau ibu, mumpung disini ada bu bidan dan gratis lo yah.

Action 8
Desi     : (memperkenalkan diri) saya ibu Risti, umur saya 24 tahun, saya baru mempunyai satu anak dan baru lahir. Yang saya tanyakan KB yang cocok untuk saya apa ya bu??
Faiza    : karena ibu masih muda umurnya 24 tahun, saya menyarankan ibu menggunakan KB suntik yang 3 bulan sekali yang mengandung progesteron saja bu, karena tidak mempengaruhi produksi ASI dan cocok untuk ibu menyusui.
Desi     : oh, begitu ya bu, apakah ada efek sampingnya?
Faiza    : efek sampingnya kalau di bulan pertama pemakaian terjadi mual, perdarahan berupa bercak di antara masa haid, sakit kepala dan nyeri payudara. Juga tidak melindungi IMS dan HIV AIDS.
Action 9
Riska   : Bu bu, kalo saya kadang kombinasi bu, kondom sama KB suntik, baik gak bu? Yang sesuai dengan pekerjaan saya yang selalu menemani lelaki hidung belang kalo gak tua tua keladi?
Latipa  : oh kalo ibu lebih baik pakai kondom saja, kalo suntik kan sudah saya jelaskan tadi kalau KB suntik tidak bisa melindungi dari Infeksi menular seksual dan HIV AIDS.
Elfi      : berarti saya juga pakai kondom aja bu?kan saya anak buahnya bu?
Latipa  : iya begitu juga tidak apa apa bu, dan sebaiknya dilakukan pemeriksaan genetalia atau alat kelamin satu bulan sekali untuk memastikan kesehatan alat kelamin ibu.
Action 10
Wisil    : bu, saya mau tanya.....
KB yang cocok untuk saya apa dengan saya yang berumur 33 tahun. Dan saya sudah merasa cukup dengan mempunyai 2 orang anak.
Latipa  : ada tiga pilihan untuk ibu, yang pertama yaitu IUD (bertembaga dapat dipakai selama 10 tahun), yang kedua yaitu tubektomi (jadi sel telur tidak dapat dibuahi oleh sperma dan bentuknya permanen dan efektif), dan yang terakhir yaitu fasektomi pada suami ibu, nantinya saluran benih sperma pada suami ibu dipotong agar tidak keluar dari buah zakar. Untuk tubektomi dan fasektomi bentuknya permanen, tetapi dilakukan dengan operasi. tenang saja bu,, ibu masih bisa berhubungan dengan suami kok.
Action 11
Yosi     : bu, saya ingin menunda kehamilan. Alat kontrasepsi apakah yang cocok untuk saya?
Faiza    : umur ibu berapa?
Yosi     : umur saya 19 tahun
Faiza    : dilihat dari usia ibu yang masih muda, saya sarankan agar ibu menggunakan pil KB. Karena pil KB dapat mencegah lepasnya sel telur dari indung telur, mengentalkan lendir mulut rahim sehingga sperma tidak dapat masuk, dan efektifitasnya 98,5% sampai lebih dari 99%.
Action 12
Sigit     : saya masih bingung bu, bagai mana cara pemakaian kondom yang benar. Saya takutnya nanti bocor dan tidak kencang.
Latipa : (ibu puspa menjelaskan bagaimana cara pemakaian kondom yang benar)
Sigit     : oo.... iya bu, terimakasih atas penjelasannya.
Action 13
Faiza    : bagaimana bapak ibu???semoga apa yang telah kami jelaskan mengenai KB ini dapat bermanfaat dan semoga KB yang bapak atau ibu lakukan dapat sukses...
Latipa  : Kami juga meminta maaf apabila bapak ibu belum puas atas jawaban kami.Lebih lanjutnya bapak ibu bisa datang ke BPS Ibu Rina atau menghubungi saya.Wassalamualaikum Wr. Wb.
Masy. : Walaikumsalam Wr.Wb.

Selasa, 09 April 2013

makalah keperawatan anak 1 anemia



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Anemia merupakan masalah medik yang paling sering dijumpai di klinik di seluruh dunia, di samping sebagai masalah kesehatan utama masyarakat, terutama di negara berkembang. Kelainan ini merupakan penyebab debilitas kronik (chronic debility) yang mempunyai dampak besar terhadap kesejahteraan sosial dan ekonomi, serta kesehatan fisik. Oleh karena frekuensinya yang demikian sering , anemia, terutama anemia ringan seringkali tidak mendapat perhatian dan dilewati oleh para dokter di praktek klinik.  Sementara itu, prevalensi anemia pada anak prasekolah di Indonesia, menurut Word Health Organisation (WHO) pada tahun 1993-2005 di dapati sekitar 44,4 %.
Menurut data dari WHO yang dikeluarkan sekitar tahun 1993-2005, prevalensi anemia pada anak usia pra sekolah ( 0-5 tahun ) adalah sebesar 47.4% sedangkan di Asia Tenggara mencapai 65.5% yaitu sekitar 115.3 juta anak menderita anemia. Hal ini merupakan angka yang cukup besar, karena jika mengacu pada data WHO, maka lebih dari setengah anak usia pra sekolah di Asia Tenggara termasuk Indonesia, terkena anemia. Maka lumayan tinggi pula kejadian dan angka anemia bayi dan anak di Indonesia ini.
Sementara itu, kebanyakan anemia pada anak adalah anemia karena kekurangan zat besi atau iron deficiency anemia. Penyebab umumnya adalah pola defisiensi salah satu zat gizi.. Anemia lainnya adalah anemia karena perdarahan, anemia karena  mengalami gangguan pada sumsum tulang dimana sumsum tulang tidak memproduksi sel-sel darah dengan baik dan penyebabnya bermacam-macam, seperti menderita suatu penyakit keganasan atau  kanker, leukemia.    
Menurut WHO (World Health Organization) anemia pada anak bisa berdampak kepada terganggunya pertumbuhan serta perkembangan anak tersebut. Hal ini karena aktirifas yang dibutuhkan dalam tahap perkembangan serta pertumbuhannya tidak terpenuhi dengan baik karena energi tubuhnya yang berkurang dan berbeda dengan anak seusianya yang tidak mendapat anemia. Anemia pada anak bisa menyebabkan daya tangkap sang anak yang berkurang sehingga mengakibatkan menurunnya tingkat intelegensia anak dan kurang bergairah dalam melakukan aktivitas seperti anak pada umumnya. Dan tentunya pula akan berpengaruh kepada tingkat kesehatan pada anak-anak.

1.2  Tujuan
   1.2.1 Tujuan umum
             Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tentang asuhan keperawatan pada anak dengan anemia.

             1.2.2 Tujuan khusus
                                     1.2.2.1 Dapat mengetahui dan memahami Pengertian dari Anemia
                                     1.2.2.2 Dapat mengetahui dan memahami Etiologi dari anemia
                                     1.2.2.3 Dapat mengetahui dan memahami Klasifikasi
                                     1.2.2.4 Dapat mengetahui dan memahami Patofisiologi
                                     1.2.2.5 Dapat mengetahui dan memahami Manifestasi
                                     1.2.2.6 Dapat mengetahui Pemeriksaan penunjang
                                     1.2.2.7 Dapat mengetahui Komplikasi
                                     1.2.2.8 Dapat mengetahui Penatalaksanaan
                              1.2.2.9 Dapat mengetahui dan mampu membuat Asuhan Keperawatan pada Anak  dengan Anemia















BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Pengertian

 Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta jumlah hemoglobin dalam 1 mm3 darah atau berkurangnya volume sel yang didapatkan (packed red cells volume) dalam 100 ml darah (Ngastia, 2005:359). Eritrosit normal pada anak 3.6-4.8 juta sel/mm3 dan nilai hemoglobin  normal pada anak adalah 11-16 gram/dL.
Anemia adalah kondisi dimana jumlah sel darah merah dan/atau konsentrasi hemoglobin turun di bawah normal (Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik, 2003:536)
Anemia adalah penurunan  volume eritrosit kadar HB sampai di bawah rentang nilai-nilai yang berlaku untuk orang sehat (Nelson, 2000: 1680). Derajat Anemia menurut WHO :
Derajat
WHO
Derajat 0 (nilai normal)            
Derajat 1 (ringan)
Derajat 2 (sedang)
Derajat 3 (berat)
Derajat 4 (mengancam jiwa)
≥11 g/dl
9.5-10.9 g/dl
8-8.4 g/dl
6.5-7.9 g/dl
<6 .5="" dl="" g="" span="">
















 2.2 Etiologi
      Anemia hanyalah suatu kumpulan gejala yang disebabkan oleh bermacam-macam penyebab. Pada dasarnya anemia disebabkan karena :
      2.2.1 Gangguan pembentukan eritrosit yang dapat terjadi karena:
a.       Perubahan sintesa Hb yang dapat menimbulkan anemia defisiensi Fe, Thalasemia, dan anemia infeksi kronik
b.      Perubahan sintesa DNA akibat kekurangan nutrien yang dapat menimbulkan anemia pernisiosa dan anemia asam folat
c.       Fungsi sel induk (stem sel) terganggu, sehingga dapat menimbulkan anemia aplastik dan leukemia
d.      Infiltrasi sumsum tulang, misalnya, karena karsinoma
      2.2.2 Kehilangan darah
a.       Akut karena perdarahan atau trauma/kecelakaan yang terjadi secara mendadak
b.      Kronis  karena perdarahan pada saluran cerna atau menorhagia
      2.2.3 Meningkatnya pemecahan eritrosit (hemolisis). Hemolisis dapat terjadi karena:
a.       Faktor bawaan, misalnya : kekurangan enzim G6PD (untuk mencegah kerusakan eritrosit)
b.      Faktor yang didapat, yaitu adanya bahan yang dapat merusak eritrosit, misalnya ureum pada darah karena gangguan ginjal atau penggunaan obat acetosal
      2.2.4 Bahan baku untuk pembentuk eritrosit tidak ada. Bahan baku yang dimaksud adalah  protein, asam folat, vitamin B12, dan mineral Fe (Nursalam, 2005:124).

   2.3 Klasifikasi
      2.3.1 Anemia Pascaperdarahan
Terjadi sebagai akibat perdarahan yang masif seperti kecelakaan, operasi dan persalinan dengan perdarahan, atau perdarahan yang menahun seperti pada penyakit cacingan. Akibat kehilangan darah  yang cepat, terjadi refleks kardiovaskuler yang fisiologis berupa konstraksi arteriol, pengurangan aliran darah atau komponennya ke organ tubuh yang kurang vital (anggota gerak, ginjal, dan sebagainya) dan penambahan aliran darah ke organ vital (otak dan jantung). Kehilangan darah yang  mendadak lebih berbahaya dibandingkan dengan kehilangan darah dalam waktu lama.
Gejala yang timbul tergantung dari cepat dan banyaknya darah yang hilang dan apakah tubuh masih dapat mengadakan kompensasi. Kehilangan darah sebanyak 12-15 % akan memperlihatkan gejala pucat, takikardia,  tekanan darah normal atau rendah. Kehilangan darah sebanyak 15-20 % akan mengakibatkan tekanan darah menurun dan dapat terjadi renjatan yang masih reversible pada organ vital otak dan jantung. Kehilangan yang lebih dari 20 % akan menimbulkan renjatan yang irreversible dengan angka kematian tinggi. (Ngastiyah, 2005 : 328) .

Nilai normal tanda-tanda vital berdasarkan usia pada anak
Usia
Nadi (kali/menit)
Tekanan Darah Sistolik (mmHg)
Pernapasan(kali/menit)
Baru Lahir (0-1 bulan)
120-160
50-70
40-60
Bayi (1 bulan -1 tahun)
100-160
70-95
30-60
Bawah tiga tahun(1-3 tahun)
90-150
80-100
24-40
Prasekolah (4-5 tahun)
80-140
80-100
22-34
Anak-anak (5- 12 tahun)
70-120)
80-110
18-30

Sumber : Marilyn Jackson dan Lee Jackson, 2009, Seri Panduan Praktis Keperawatan Klinis hal 12. Jakarta: Erlangga



      2.3.2 Anemia Defisiensi Zat Besi ( Fe )
Merupakan anemia yang terjadi karena kekurangan zat besi yang merupakan bahan baku pembuat sel darah dan hemoglobin. Klasifikasi anemia defisiensi :
1.      Mikrositik hipokromik. Terjadi akibat kekurangan zat besi, piridoksin atau tembaga
2.      Makrositik normokromik (megaloblastik). Terjadi akibat kekurangan asam folat dan vitamin B12

Kekurangan zat besi ( Fe ) dapat disebabkan             berbagai hal, yaitu:

            2.3.2.1 asupan yang kurang mengandung zat besi terutama pada fase                             
                        pertumbuhan cepat.

2.3.2.2  penurunan reasorbsi karena kelainan pada usus atau karena anak banyak  mengkonsumsi teh (menurut penelitian, ternyata teh dapat menghambat reabsorbsi Fe)

2.3.2.3 kebutuhan yang meningkat, misalnya pada anak balita yang pertumbuhannya cepat sehingga memerlukan nutrisi yang lebih banyak.
             
Bayi prematur juga beresiko mengalami anemia defisiensi zat besi karena berkurangnya persediaan Fe pada masa fetus. Pada trimester akhir kehamilan, Fe ditransfer dari ibu ke fetus, kemudian di simpan di liver, lien, dan sumsum tulang belakang. Cadangan Fe ini hanya dapat digunakan untuk  memenuhi kebutuhan bayi sampai usia 5-6 bulan saja, bahkan pada bayi prematur cadangan tersebut cukup sampai usia 2-3 bulan. Jika kebutuhan Fe tidak dipasok dengan pemberian nutrisi yang cukup maka anak akan mengalami defisiensi Fe (Nursalam, 2005:125).





Sumber makanan yang mengandung Zat Besi
 No
Bahan Makanan
Zat Besi (mg/100 g)
1
Hati

6,0 sampai 14,0

2
Daging Sapi

2,0 sampai 4,3

3
Ikan

0,5 sampai 1,0

4
Telur Ayam

2,0 sampai 3,0

5
Kacang-kacangan

1,9 sampai 14,0

6
Tepung Gandum

1,5 sampai 7,0

7
Sayuran Hijau Daun

0,4 sampai 18,0

8
Umbi-umbian

0,3 sampai 2,0

9
Buah-buahan

0,2 Sampai 4,0

10
Beras

0,5 sampai 0,8

11
Susu Sapi
0,1 sampai 0,4
            Sumber : Davidson, dkk, 1973 dalam Husaini, 1989

      2.3.3 Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik adalah anemia yang disebabkan karena terjadinya penghancuran sel darah merah (eritrosit) yang disebut dengan hemolisis dalam pembuluh darah sehingga umur eritrosit pendek. Umur eritrosit ialah 100-120 hari. Penyebab hemolitik dapat terjadi karena faktor kongenital atau bawaan dari lahir yaitu :
a.       kekurangan  enzim G6PD (Glucose-6-Phosphate-Dehidrogenase) Defisiensi G6PD  diturunkan secara dominan melalui kromosom X. Kelainan ini sering ditemukan pada bayi baru lahir yang ikhterus. Gunanya untuk mencegah kerusakan eritrosit.
b.      hemoglobinopati, hemoglobin orang dewasa normal terdiri dari HbA yang merupakan 98 % dari seluruh hemoglobin. HbA 2 tidak lebih dari 2 % dan HbF tidak lebih dari 3 %. Pada bayi baru lahir HbF merupakan bagian terbesar dari hemoglobin yaitu 95 %, kemudian pada perkembangan selanjutnya konsentrasi HbF akan menurun sehingga pada umur 1 tahun telah mencapai keadaan normal. Pada kelainan hemoglobin ini terdapat 2 jenis ialah :
1.      Gangguan struktural pembentukan hemoglobin ( hemoglobin yang abnormal) seperti pada HbS, HbF, dan lainnya.
2.      Gangguan jumlah rantai hemoglobin. Seperti pada thalasemia (Ngastiyah, 2005 : 331).

2.3.4 Anemia Aplastik
      Anemia aplastik diakibatkan oleh karena rusaknya sumsum tulang. Gangguan berupa berkurangnya sel darah dalam darah tepi sebagai akibat terhentinya pembentukan sel hemopoetik dalam sumsum tulang. Aplasia dapat terjadi hanya pada satu, dua atau ketiga sistem hemopoetik (eritropoetik, granulopoetik, dan trombopoetik).
Aplasia yang hanya mengenai sistem eritropoetik disebut eritroblastopenia (anemia hipoplastik) ; yang mengenai sistem granulopoetik yang disebut agranulosistosis (penyakit Schultz) ; dan yang mengenai trombopoeitik disebut amegakariositik trombositopenik purpura (ATP). Bila mengenai ketiga sistem tersebut disebut panmieoloptisis atau lazimnya disebut anemia aplastik. (Ngastiyah, 2005:332)




Ada beberapa penyebab terjadinya anemia aplastik diantaranya:

2.3.4.1 Menurunnya jumlah sel induk yang merupakan bahan dasar sel darah,    penurunan sel induk bisa terjadi karena bawaan dalam arti tidak jelas penyebabnya ( idiopatik ), yang dialami oleh sekitar 50 % penderita. Salah satu faktor kongenital atau bawaan adalah sindrom Fanconi yang biasanya disertai kelainan bawaan lain seperti mikrosefali, strabismus, anomali jari, kelainan ginjal, dan sebagainya. Selain karena faktor bawaan, anemia aplastik dapat terjadi karena faktor didapat seperti dampak  bahan kimia : benzen, insektisida, senyawa As, Au, Pb, obat : Kloramfenikol, mesantoin (antikonvulsan), piribenzamin (antihistamin), santonin kalomel, obat sitostatika (myeleran, methrotrexate, TEM, vincristine, rubidomycine dan sebagainya),Radiasi : sinar rontgen, radioaktif,  Faktor individu : alergi terhadap obat, bahan kimia dan sebagainya , Infeksi, keganasan, gangguan endokrin dan sebagainya. Idiopatik, sering ditemukan.

        2.3.4.2 Lingkungan mikro, seperti radiasi dan kemoterapi yang lama dapat
                  mengakibatkan  sembab yang fibrinus dan infiltrasi sel.

  2.3.4.3 Penurunan poitin, sehingga yang berfungsi merangsang tumbuhnya sel-   sel   darah dalam sumsum tulang tidak ada.
  2.3.4.4 Adanya sel inhibitor (T.Limphosit) sehingga menekan/menghambat maturasi sel-sel induk pada sumsum tulang. (Nursalam, 2005: 127)
Prognosis anemia aplastik
1.      Sesuai dengan gambaran sumsum tulang
2.      Jika kadar HbF lebih dari 200 mg/dl, dan jumlah granulosit lebih dari 2000/mm3 menunjukkan prognosis yang lebih baik. (Ngastiyah, 2005:332)

Nilai normal sel darah pada anak 0-12 tahun

Jenis sel darah
Usia
Bayi Baru Lahir
1  Tahun
5 Tahun
8-12 Tahun
Eritrosit (juta/mikro lt)
5,9 (4,1-7,5)
4,6 (4,1-5,1)
4,7 (4,2-5,2)
5 (4,5-5,4)
Hb (gr/dl)
19 (14-24)
12 (11-15)
13,5 (12,5-15)
14 (13-15,5)
Leukosit (per mikro lt)
17.000 (8-38)
10.000 (5-15)
8.000 (5-13)
8000 (5-12)
Trombosit (per mikri lt)
200.000
260.000
260.000
260.000
Hematokrit (%)
54
36
38
40
Sumber : Essential of pediatrics Nursing, Wong (2000)

2.4 Patofisiologi





















2.5 Gejala  Klinik

      2.5.1 Manifestasi klinis  pada anemia:
2.5.1.1 Anemia pasca perdarahan
a.       Pucat
b.      Transpirasi
c.       Takikardi
d.      Tekanan darah menurun
e.       syock
2.5.1.2 Anemia Defisiensi zat Besi (Fe):
a.       Lemas,
b.      pucat yang tampak pada daerah mukosa bibir, faring, telapak tangan, dasar kuku, konjungtiva okuler berwarna kebiruan atau putih mutiara (pearly white),
c.        cepat lelah,
d.      sakit kepala,   
e.       Papil    lidah atrofi : lidah tampak pucat, licin, mengkilat, merah, meradang dan sakit,
f.       Jantung agak membesar dan terdengar murmur sistolik,
g.      Tidak ada pembesaran limfa dan hepar
h.      Pada anak MEP dengan cacingan (ankilostomiasis) akan terlihat perutnya buncit yang disebut potbellt dan dapat edema.
i.      Pada anak MEP berat dapat ditemukan hepatomegali dan diatesis hemoragic.
2.5.2.3            Anemia hemolitik:
a.    Limpa membesar
b.    Kelainan tulang rangka akibat hiperplasia sumsum tulang
2.5.2.4     Anemia aplastik
a.    Hb menurun
b.    Hematokrit menurun
c.    Eritrosit menurun
d.   Pucat
e.    Sesak napas
f.     Anoreksia
g.    Tidak ditemukan ikhterus
h.    Tidak ditemukan pembesaran limfa, hepar, maupun kelenjar getah bening
i.      Peningkatan suhu tubuh
j.      Limfositosis (Ngastiyah, 2005:330)
   2.6 Pemeriksaan Penunjang
            Uji Laboratorium dan Diagnostik
2.6.1    Anemia aplastik
a.    Hitung darah lengkap disertai diferensial-anemia makrositik; penurunan granulosit, monosit, dan limfosit
b.    Jumlah trombosit-menurun
c.    Jumlah retikulosit-menurun
d.   Aspirasi dan biopsi sumsum tulang-hiposeluler
e.    Elektroforesis hemoglobin-kadar hemoglobin janin meningkat
f.     Titer antigen sel darah merah-naik
g.    Uji gula air-positif
h.    Uji Ham-positif
i.      Kadar folat dan B12 serum-normal atau meningkat
j.      Uji kerusakan kromosom- positif untuk anemia Fanconi
(Keperawatan Pediatri, 2002 : 10)

      2.6.2  Anemia Defisiensi Zat Besi
a.    Kadar Porfirin eritrosit bebas-meningkat
b.    Konsentrasi besi serum-menurun
c.    Saturasi transferin-menurun
d.   Konsentrasi feritin serum-menurun
e.    Hemoglobin-menurun
f.     Rasio hemoglobin-porfirin eritrosit-lebih dari 2,8 µg/g adalah diagnostik untuk defisiensi besi
g.    Mean corpuscle volume (MCV) dan Mean corpuscle hemoglobin concentration (MCHC)-menurun, menyebabkan anemia hipokrom mikrositik ata sel-sel darah merah yang kecil-kecil dan pucat (Keperawatan Pediatri, 2002:265)

  2.7 Komplikasi

2.7.1 Anemia aplastik
a.    Sepsis
b.    Sensitisasi terhadap antigen donor yang bereaksi silang menyebabkan perdarahan yang tidak terkendali
c.    Cangkokan vs penyakit hospes (timbul setelah pencangkokan sumsum tulang)
d.   Kegagalan cangkok sumsum (terjadi setelah transplantasi sumsum tulang)
e.    Leukemia mielogen akut-berhubungan dengan anemia Fanconi
      2.7.2 Anemia  Defisiensi Zat Besi
a.    Perkembangan otot buruk (jangka panjang)
b.    Daya konsentrasi menurun
c.    Hasil uji perkembangan menurun
d.   Kemampuan mengolah informasi yang didengar menurun

2.8 Penatalaksanaan Medis
   2.8.1 Anemia pascaperdarahan
            Dengan memberikan transfusi darah. Pilihan kedua plasma (plasma expanders atau plasma substitute). Dalam keadaan darurat diberikan cairan intravena dengan cairan infus apa saja yang tersedia (Ngastiyah, 2005:329).

   2.8.2 Anemia Defesiensi zat besi
            Untuk pengobatan ditujukan pada pencegahan dan intervensi. Pencegahan tersebut mencakup menganjurkan ibu-ibu untuk memberikan ASI, makan makanan kaya zat besi. Terapi untuk mengatasi anemia defesiensi zat besi terdiri dari program pengobatan berikut. Zat besi diberikan per oral (po) dalam dosis 2-3 mg/kg unsur besi. Semua bentuk zat besi sama efektifnya  (fero sulfat, fero fumarat, fero suksinat, fero glukonat. Vitamin C harus diberikan bersama dengan besi (vitamin C meningkatkan absorbsi besi). Zat besi paling baik diserap bila diminum 1 jam sebelum makan. Terapi besi hendaknya diberikan sekurang-kurangnya selama 6 minggu setelah anemia dikoreksi untuk mengisi kembali cadangan besi. Zat besi yang disuntikkan jarang dipakai lagi kecuali terdapat penyakit malabsorbsi usus halus (Keperawatan Pediatri, 2002 : 266 ).

 2.8.3 Anemia hemolitik
a.    Prednison dan testesteron. Prednison, dosis 2-5 mg/kgBB/hari per oral; testosteron dengan dosis 1-2 mg/kgBB/hari secara perenteral.  Akhir-akhir ini testosteron  diganti dengan oksimetolon yang mempunyai daya anabolik dan meransang sistem hemopoeitik lebih kuat; dosis diberikan 1-2 mg/kgBB/hari per oral. Hendaknya memperhatikan fungsi hati.Pengobatan dapat berlansung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Jika terdapat remisi dosis dikurangi separuhnya dan jumlah sel darah diawasi setiap minggu. Bila kemudian  terjadi relaps, dosis obat harus diberikan penuh lagi.
b.    Transfusi darah. Diberikan jika diperlukan saja, karena pemberian transfusi darah terlampau sering akan menimbulkan depresi sumsum tulang atau akan menimbulkan reaksi hemolitik sebagai akibat dibentuknya antibodi terhadap sel-sel darah tersebut.
c.    Pengobatan terhadap infeksi sekunder. Untuk mencegah infeksi, sebaiknya anak diisolasi dalam ruangan yang suci hama. Pemberian obat antibiotika dipilih yang ridak menyebabkan depresi sumsum tulang. Kloramfenikol tidak boleh diberikan.
d.    Makanan. Makanan umumnya diberikan dalam bentuk lunak. Bila terpaksa diberikan melalui pipa lambung harus hati-hati karena dapat menimbulkan luka/perdarahan  pada waktu memasukkan pipanya.
e.    Istirahat. Untuk mencegah perdarahan terutama pada otak. Untuk mencegah perdarahan terutama pada otak (Ngastiyah, 2005:333).
 2.8.4 Anemia aplastik
            Pilihan utama pengobatan anemia aplastik adalah transplantasi sumsum tulang dengan donor saudara kandung, yang antigen limfosit manusianya (HLA) sesuai. Pada lebih 70 % kasus tidak ada kesesuaian dari saudara kandung. Akan tetapi, terdapat kemungkinan  kesesuaian yang makin besar antara orang tua dan anaknya yang menderita anemia aplastik. Jika ingin melakukan transplantasi sumsum tulang, pemeriksaan HLA keluarga harus segera dilakukan dan produk darah harus sedikit mungkin digunakan untuk menghindari terjadinya sensitisasi. Untuk menghindari sensitisasi, darah hendaknya juga jangan didonasi oleh keluarga anak. Produk darah harus selalu diradiasi dan disaring untuk menghilangkan sel-sel darah putih yang ada, sebelum diberikan pada anak yang menjadi calon penerimatransplantasi sumsum tulang.
           Imunoterapi dengan globulin antitimosit (ATG) atau globulin antilimfosit (ALG) adalah terapi primer bagi anak yang bukan calon untuk transplantasi sumsum tulang. Anak itu akan berespon dalam 3 bulan atau tidak sama sekali terhadap terapi ini. Siklosporin A juga merupakan imunosupresan efektif yang dapat dipakai dalam pengobatan anemia aplastik. Androgen jarang dipakai kecuali tidak ada obat lain tersedia.
         Terapi penunjang mencakup pemakaian antibiotika dan pemberian produk darah. Antibiotika dipakai untuk mengatasi demam dan neutropenia ; antibiotika profilaktif tidak diindikasikan untuk anak yang asimptomatik. Produk darah yang dapat diberikan adalah sebagai berikut :
1.      Trombosit- untuk mempertahankan jumlah trombosit diatas 20.000 per mm3. Pakai feresis trombosit donor tunggal untuk menurunkan jumlah antigen limfosit manusia yang terpajan pada anak itu.
2.      Packed red blood cells- untuk mempertahankan kadar hemoglobin di atas g/dl (anemia kronik sering ditoleransi dengan baik). Untuk jangka panjang, pakai deferoksamin sebagai agens pengikat ion logam untuk mencegah komplikasi kelebihan besi.
3.      Granulosit-ditransfusi ke pasien yang menderita sepsis gram negatif
( Keperawatan pediatri, 2002: 11)

program terapi , prinsipnya:
1)      Tergantung pada berat ringannya anemi , etiologi , akut atau kronik.
2)      Tidak selalu berupa transfuse darah.
3)      Menghilangkan penyebab dan mengurangi gejala.


BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
Pada pengkajian ini penulis tidak membahas secara khusus asuhan untuk masing masing jenis anemia. Untuk itu akan dikaji  data focus yang umum nya sering terjadi pada bayi dan balita yang mengalami anemia terutama defisiensi.
1. Usia
Anak yang mengalami defisiensi fe biasanya berusia antara 6-24 bulan dan pada masa pubertas. Pada usia tersebut kebutuhan fe cukup tinggi , karena digunakan untuk perubahan yang terjadi relative cepat dibandingkan dengan periode pertumbuhan lainnya (wong, 1991).
2. Pucat
1). Pada anemia pasca perdarahan , kehilangan darah sekitar 12-15% akan menyebabkan pucat dan takikardi. Kehilangan darah yang cepat dapat menimbulkan reflek cardiovaskuler secara fisiologis berupa kontraksi arterial,  penambahan aliran darah ke organ vital , dan pengurangan aliran darah yang kurang vital , seperti ekstremitas.
2). Pada defisiensi zat besi maupun asam folat (pernisiosa ), pucat terjadi karena tidak tercukupinya bahan baku pembuat sel darah maupun bahan esensial untuk pematangan sel, dalam hal ini zat besi dan asam folat.
3) Anemia hemolistik terjadi karena penghancuran sel darah merah sebelum waktunya secara normal , sel darah merah akan hancur dalam waktu 120 hari , untuk selanjutnya membentuk sel darah baru.
4).Anemia aplastik , pucat terjadi karena terhentinya pembentukan sel darah pada sumsum tulang. Hal ini terjadi karena sumsum tulang mengalami kerusakan.
Warna pucat pada kulit ini dialami oleh hampir semua anak yang anemia. Warna pucat ini terletak pada telapak tangan , dasar kuku , konjungtiva , dan pada mukosa bibir. Cara yang sederhana adalah dengan membandingkan telapak tangan anak dengan telapak tangan petugas atau orang tua. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa telapak tangan pembanding haruslah normal.
3. Mudah lelah/lemah
Berkurangnya kadar oksigen dalam tubuh mengakibatkan keterbatasan energi yang dihasilkan oleh tubuh, sehingga anak kelihatan lesu , kurang bergairah , dan mudah lelah. Oksigen yang terikat dengan Hb pada sel darah merah mempunyai salah satu fungsi untuk aktivitas tubuh.
4. Pusing kepala
Pusing kepala pada anak anemia disebabkan karena pasokan atau aliran darah ke otak berkurang.
5. Nafas pendek
Rendahnya kadar Hb akan menurunkan kadar oksigen , karena Hb merupakan pembawa oksigen. Oleh karena itu , sebagai kompensasi atas kekurangan oksigen tersebut , pernafasan menjadi lebih cepat dan pendek .
6. Nadi cepat
Peningkatan denyut nadi sering terjadi terutama pada perdarahan mendadak yang merupakan kompensasi dari reflek kardiovaskuler. Kompensasi peningkatan denyut nadi ini terjadi untuk memenuhi kebutuhan oksigen tubuh.
7. Gangguan eliminasi urine  kadang –kadang terjadi penurunan produksi urine
Adanya perdarahan yang hebat dapat menurunkan aliran darah ke ginjal sehingga merangsang hormone renin angiotensin active untuk menahan garam dan air sebagai kompensasi anak untuk memperbaiki perfusi dengan manifestasi penurunan produksi urine.
8. Gangguan pada sistem saraf
Anemia defisiensi vitamin B12 dapat menimbulkan gangguan pada system saraf sehingga timbul keluhan seperti kesemutan (Gringginen), ekskremitas lemah , spastisitas , dan gangguan melangkah.
9. Gangguan saluran cerna
Pada anemia yang berat , sering timbul karena nyeri perut , mual, muntah, dan penurunan nafsu makan (anoreksia).
10. Pika
Merupakan suatu keadaan yang berulang karena anak makan zat yang tidak bergizi tanpa gangguan jiwa atau fisik. Sering terjadi pada anak berusia 1-4  tahun yang kurang zat gizi , anak terlantar , anak yang mengalami retardasi mental , dan kurang pengawasan. Zat yang sering dimakan misalnya zat kapur, kertas, dan lain-lain. Pika akan menghilang , bila anak mendapat perhatian dan kasih sayang yang cukup atau sudah teratasi masalah anemianya.
11. Iritable (cengeng , rewel , aau mudah tersinggung )
Kasus ini sering terjadi pada anemia defisiensi besi, walaupun anak tersebut telah terpenuhi kebutuhan  seperrti minum dan makan , tetapi anak tetap rewel. Apabila sebelumnya anak rewel kemudian setelah diberi minum atau makan menjadi diam ,  maka hal ini tidak termasuk cengeng (Iritable).
12. Suhu tubuh meningkat
Diduga terjadi sebagai akibat dari dikeluarkan leukosit dari jaringan iskemik (jaringan yang mati akibat kekurangan oksigen).
3.2    Diagnosa Keperawatan
a.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakadekuatan masukan besi yang dilaporkan; kurang pengetahuan mengenai makanan yang diperkaya dengan besi.
b.    Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan umum, penurunan pengiriman oksigen ke jaringan
c.    Ansietas/takut berhubungan dengan prosedur diagnostik/transfusi



BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
 Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta jumlah hemoglobin dalam 1 mm3 darah atau berkurangnya volume sel yang didapatkan (packed red cells volume) dalam 100 ml darah (Ngastia,2005:359).Anemia disebabkan karena hemolisis (eritrosit mudah rusak), Perdarahan, Penekanan sumsum tulang (misalnya, kanker), Defisiensi nutrisi (anemia gizi), termasuk kekurangan zat besi, asam folat,vitamin C. Jenis anemia adalah anemia pascaperdarahan, anemia aplastik, anemia megaloblastik, anemia, anemia defisiensi zat besi. Penanganan yang dilakukan orang tua terhadap anak yang menderita anemia adalah memberikan makanan yang banyak mengandung sumber zat besi, antara lain daging legum, kacang, gandum, sereal bayi yang diperkaya dengan besi dan sereal kering. Sementara itu pada anak-anak yang menderita anemia berat, orang tua harus segera membawa anaknya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis selanjutnya.
4.2 Saran
 Dengan memiliki pengetahuan mengenai  konsep anemia diharapkan orang tua dapat memberikan makanan yang banyak mengandung sumber zat besi pada anak antara lain daging legum, kacang, gandum, sereal bayi yang diperkaya dengan besi dan sereal kering untuk mencukupi kebutuhan zat besi anak.
Diharapkan tenaga kesehatan terutama perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang profesional pada anak yang menderita anemia sehingga kasus anemia berkurang pada anak-anak





Daftar Pustaka
Aziz Alimul Hidayat, 2009, Pengantar Ilmu Keperawatan Anak, Salemba Medika. Jakarta
Cecily, Linda A.2002.Buku Saku Keperawatan Pediatri Edisi 3.Jakarta:EGC
FKUI 1997, Ilmu Kesehatan Anak Volume I, EGC. Jakarta
Nelson 2000, Ilmu Kesehatan Anak, EGC. Jakarta
Ngastiah 1997, Ilmu Keperawatan Anak, EGC. Jakarta
Ngastiah, 2005, Perawatan Anak Sakit, EGC. Jakarta
Nursalam, 2005, Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak (Untuk Perawat dan Bidan), Salemba Medika. Jakarta
Wong, Donna L. 2002. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik, Ed. 6, Vol. 1. Jakarta : EGC.
Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC